Hydrangea

Hydrangea flower untuk dekorasi

Hydrangea atau di Bali dikenal dengan pecah seribu atau Hortensia (Hydrangea macrophylla) adalah tumbuhan berbunga yang berasal dari Asia Timur dan Asia Selatan (Jepang, Tiongkok, Himalaya, Indonesia), Amerika Utara dan Amerika Selatan. Tanaman hortensia merupakan tanaman berbunga indah yang dapat ditanam di dalam pot, maupun di lapangan. Biasanya tanaman hortensia dibudidayakan sebagai tanaman hias maupun bunga potong. Tanaman hortensia dikenal dengan nama kembang bokor karena bentuk calyx (mahkota) dekat dengan dasar bunga yang berkumpul sebagai bunga berbentuk bokor (http://id:wikipedia.org). Tanaman hortensia biasanya dipakai sebagai taman pelaminan pengantin karena memberikan efek warna yang indah. Di Bali tanaman hortensia lebih dikenal dengan nama bunga pecah seribu atau kembang seribu yang dibudidayakan sebagai bunga potong untuk pelengkap.

Bunga Hydrangea untuk sesaji

sarana upacara adat/agama terutama banten (sesaji) bagi umat Hindu yang daritahun ke tahun kebutuhannya meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan seringnya upacara keagamaan . Bunga hortensia banyak diminati oleh masyarakat sebagai sarana upacara karena harganya yang dapat dijangkau dan bunga tersebut cukup awet bahkan dapat bertahan sampai 7 hari sejak bunga tersebut dipetik dari pohonnya. Bunga hortensia saat ini sangat mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional. Kebutuhan bunga hortensia sebagai tanaman hias dan bunga potong segar tetap diperlukan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Konsumen bunga hortensia di Bali meliputi rumah tangga, pedagang bunga, toko-toko bunga (flower shop).

Tempat Hidup Hydrangea

Tanaman bunga hortensia adalah tanaman cukup spesifik di dataran tinggi karena hanya dapat tumbuh dengan baik di Kabupaten Buleleng dan Tabanan. Berdasarkan data statistik yang ada di Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng dan Tabanan luas areal tanaman bunga hortensia di Kabupaten Buleleng tahun 2009 mencapai 1.043,00 ha dan Kabupaten Tabanan seluas 10 ha. Perkembangan luas areal tanaman bunga hortensia dan jumlah produksi di Kabupaten Buleleng yang dilaporkan selama tiga tahun seperti Tabel 1.2.

Menurut Heru A. Muawin, (http://heruamuawinmenembuscakrawala. blogspot.com hortensia-hydrangea) tanaman bunga hortensia (Hydrangea macrophylla) dari keluarga Saxifragaceae merupakan tanaman hias yang berasal dari Honsu, sebuah pulau besar di Jepang.

Di Indonesia hortensia lebih dikenal dengan nama kembang bokor dan di Bali dikenal dengan nama pecah seribu atau kembang seribu dan lebih banyak dibudidayakan sebagai bunga potong dan tanaman hias. Bunga hortensia berwarna biru atau biru kemerahan.

Saat awal 15 mekar berwarna biru kehijauan, kemudian menjadi biru, biru ungu atau biru kemerahan, tergantung pada pH tanah. Hortensia berasal dari daerah subtropis, maka tumbuh baik di daerah dataran tinggi, mulai ketinggian 500 s.d. 1.500m di atas permukaan laut. Tanaman ini cocok pada jenis tanah yang banyak mengandung pasir dan kompos.

Pengaturan warna bunga Hydrangea

Pengaturan warna bunga tergantung pada pengaturan kadar pH tanah. Aluminium yang banyak dikandung di dalam tanah dapat menyebabkan pH tanah menurun (pH 5,5) sehingga mempengaruhi warna bunga menjadi biru. Namun, apabila kandungan kapur ditambah sehingga pH meningkat menjadi 6,5-7 akan mempengaruhi warna bunga menjadi pink. Demikian pula apabila terlalu banyak dalam pemberian pospor dan nitrogen akan mempengaruhi tersedianya aluminium (semakin berkurang) sehingga pH rendah.

Tanaman hortensia diperbanyak dengan stek pucuk (terminal) dari batang atau vegetatif stock tanaman. Dibutuhkan waktu 3-4 minggu agar stek tidak basah sebelum bibit tanaman siap dipindahkan ke lapangan.

Ada tiga faktor yang dibutuhkan dalam membuat stek tanaman hortensia yaitu sumber stek bebas dari hama dan penyakit, optimum suhu untuk pengakaran 24o -25o C, dan memperhatikan sanitasi selama pengakaran. Perlakuan/pengkondisian suhu di bawah 20o C selama enam minggu pada saat pembibitan, akan merangsang pembungaan lebih cepat, sedangkan perlakuan suhu di atas 25o C batang tanaman dan bunga cenderung kecil. Perawatan tanaman hortensia berupa pencegahan terhadap organisme pengganggu tanaman seperti cendawan atau penyakit dapat dilakukan melalui 16 penyemprotan sejak pembibitan dengan menggunakan Benlate atau fungisida lain. Apabila virus yang menyerang tanaman, maka pohon induk yang terkena virus sejak awal harus dicabut atau dieleminasi. Selain itu serangan Bontrytis dan aphids sering terjadi secara bersamaan sehingga penggunaan pestisida secara bergantian dapat dilakukan untuk mengantisipasinya.

Tanaman bunga hortensia baru dapat dipanen untuk pertamakalinya setelah berumur 9 (sembilan) bulan dan panen berikutnya umumnya setiap 10 – 15 hari sekali. Umur produktif tanaman hortensia untuk satu periode musim tanam adalah enam tahun setelah itu tanaman harus dibongkar secara keseluruhan karena kualitasnya bunga yang dihasilkan tidak sebagus saat umur tanaman masih produktif. Selain sebagai tanaman hias dipekarangan dan untuk keperluan sarana upacara agama (banten) tanaman hortensia juga dapat dipakai sebagai obat.

Menurut hasil program mini riset (anonim,2008) disebutkan bunga hortensia bersifat sedikit beracun jika dimakan karena semua bagian tanaman mengandung glukosida sianogenik, walaupun demikian jarang ada kasus keracunan karena tanaman ini tidak enak dimakan. Daun dan akar tanaman ini juga dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Tumbuhan ini merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki kandungan pigmen, anthosianin yang sangat tinggi. Secara garis besar tanaman hortensia bisa memberikan efek antioksidan, dan anthosianin juga berpotensi dengan perannya dalam terapeutik yang berhubungan dengan penyakit kardiovaskular.

Other Post